KOLOM, MaduraPost - Hari Lahir Pancasila semestinya menjadi ruang refleksi. Bukan sekadar seremoni tahunan yang dipenuhi pidato dan upacara, melainkan momentum untuk bertanya ke mana arah bangsa ini berjalan.

Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika melihat kondisi sosial yang berkembang di berbagai daerah, termasuk Madura.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan kompetisi ekonomi, ada kegelisahan yang muncul dari sebagian kalangan. Salah satunya disampaikan Anggota DPRD Sumenep, Khairul Anwar, yang menilai terjadi perubahan orientasi nilai di tengah masyarakat Madura.

Menurutnya, Madura pada masa lalu dikenal sebagai tanah yang melahirkan banyak intelektual, ulama, dan tokoh berpengaruh.

Kehormatan seseorang tidak semata-mata diukur dari kekayaan, melainkan dari ilmu pengetahuan, kontribusi sosial, serta keteladanan yang diberikan kepada masyarakat. Kini, kata dia, ukuran kehormatan itu perlahan bergeser.

“Dulu yang dihormati di Madura itu orang-orang yang berilmu, para cendekiawan. Sekarang yang dihormati justru orang kaya. Akhirnya anak-anak muda berlomba-lomba menjadi kaya dengan cara apa pun. Kita jadi miskin keteladanan,” ujar pria yang akrab disapa Mas Irul ini, Selasa, (2/6).

Bagi Mas Irul, menjadi kaya tentu bukan sesuatu yang salah. Namun kekayaan yang dihormati masyarakat seharusnya lahir dari kemampuan, kerja keras, dan keahlian yang dimiliki seseorang.

Ia mencontohkan dokter yang memperoleh kesejahteraan karena kompetensinya di bidang kesehatan, insinyur yang sukses karena keahliannya membangun proyek, atau petani yang berhasil meningkatkan produktivitas melalui pengetahuan dan inovasi.

“Petani boleh kaya karena kepandaiannya mengolah tanah. Misalnya orang lain panen satu ton, dia bisa panen sepuluh ton karena belajar dan tekun. Itu yang terhormat,” kata anggota Fraksi PAN DPRD Sumenep ini.

Kegelisahan tersebut tidak berhenti pada soal perubahan orientasi hidup. Khairul melihat berbagai persoalan sosial yang kini muncul di Madura sebagai gejala dari hilangnya fondasi nilai dan pendidikan yang kuat.

Ia menyinggung maraknya peredaran narkoba, persoalan di lingkungan pendidikan, hingga berbagai bentuk penyimpangan sosial yang menurutnya perlu menjadi perhatian bersama.

Dalam pandangannya, bahaya narkoba bahkan dapat menggerus kekuatan suatu bangsa secara perlahan.

Mas Irul mengingatkan sejarah Perang Candu yang pernah terjadi antara Inggris dan Tiongkok pada abad ke-19. Saat itu, candu digunakan sebagai instrumen yang melemahkan masyarakat hingga berdampak luas terhadap stabilitas negara.

“Kalau dulu kita belajar sejarah, ada Perang Candu antara Cina dan Inggris. Kerajaan yang besar bisa dilemahkan lewat candu. Indonesia juga bisa mengalami hal seperti itu kalau tidak waspada,” ujarnya.

Ia mengaku prihatin melihat besarnya peredaran narkoba di Indonesia dan mempertanyakan bagaimana barang terlarang tersebut dapat terus masuk dalam jumlah besar.

“Yang tahu siapa yang bermain di balik narkoba tentu para penguasa dan aparat intelijen. Kenapa narkoba bisa berton-ton masuk ke Indonesia, itu yang harus dijawab,” kata pria yang saat ini menjadi anggota Komisi I DPRD Sumenep tersebut.

Antara Pertumbuhan Ekonomi dan Tanggung Jawab Sosial

Selain persoalan moral dan sosial, Mas Irul juga menyoroti sektor ekonomi daerah. Ia menilai pertumbuhan industri, khususnya industri rokok skala kecil, perlu dibarengi dengan kesadaran untuk berkontribusi terhadap pembangunan daerah.

Menurutnya, pemerintah daerah membutuhkan dukungan dari seluruh pelaku usaha melalui pembayaran pajak dan kewajiban lain yang telah diatur.

“Kalau pemerintah tidak mendapatkan pajak dari masyarakat dan pelaku usaha, lalu dari mana pembangunan daerah akan dibiayai?,” ujarnya.

Pihaknya menegaskan, dirinya mendukung tumbuhnya usaha kecil dan menengah, baik di sektor tembakau, makanan, minuman, pariwisata, maupun perhotelan. Namun pertumbuhan tersebut harus berjalan dalam koridor aturan yang berlaku.

“Industri kecil harus tumbuh, industri tembakau tumbuh, makanan dan minuman tumbuh, pariwisata tumbuh. Tetapi semua usaha harus taat aturan dan membayar kewajibannya kepada daerah,” katanya.

Baginya, pembangunan daerah tidak hanya membutuhkan investasi dan aktivitas ekonomi, tetapi juga kesadaran kolektif bahwa setiap warga memiliki tanggung jawab terhadap kemajuan daerahnya.

Ketika Pendidikan Tak Lagi Menjadi Jalan Utama

Kegelisahan terbesar Khairul sesungguhnya terletak pada menurunnya penghargaan terhadap pendidikan.

Ia melihat semakin banyak generasi muda yang kehilangan keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan utama menuju kesuksesan. Sebagian justru percaya bahwa kekayaan dapat diraih tanpa proses belajar yang panjang.

“Orang akhirnya malas belajar karena melihat ada yang tidak sekolah tinggi tetapi bisa kaya. Padahal setiap kesuksesan yang legal pasti ditempuh lewat pendidikan dan proses belajar,” ujarnya.

Padahal, lanjut dia, Madura pernah dikenal sebagai daerah yang melahirkan banyak sarjana dan tokoh nasional.

Ia menyebut sejumlah nama yang lahir dari tradisi intelektual kuat pada masa lalu. Namun setelah era reformasi, Mas Irul menilai regenerasi tokoh-tokoh besar itu tidak berjalan secepat yang diharapkan.

Madura dulu pencetus banyak sarjana. Tapi sekarang coba lihat, mana tokoh-tokoh yang benar-benar menjadi peneliti besar, pemikir besar, atau tokoh nasional yang lahir setelah era reformasi?” katanya.

Dalam bidang keagamaan pun, ia menilai Madura pernah melahirkan ulama besar yang pengaruhnya melampaui batas wilayah. Namun generasi penerus dengan kapasitas serupa semakin jarang ditemukan.

Mencari Negarawan di Tengah Ramainya Politisi

Pada akhirnya, seluruh kegelisahan itu bermuara pada satu kesimpulan yang menurut Khairul layak menjadi bahan renungan bersama, khususnya pada peringatan Hari Lahir Pancasila.

Ia melihat ruang publik saat ini dipenuhi oleh politisi. Namun pada saat yang sama, figur-figur negarawan yang berpikir melampaui kepentingan kelompok dan generasi sendiri justru semakin sulit ditemukan.

Negarawan, dalam pengertiannya, bukan sekadar orang yang menduduki jabatan politik. Negarawan adalah mereka yang mampu menjaga nilai, memberikan teladan, membangun peradaban, dan menyiapkan masa depan bangsa.

Karena itulah ia melontarkan satu kalimat yang menjadi inti kegelisahannya.

“Overload politisi, tetapi miskin negarawan,” ucapnya.

Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun di tengah peringatan Hari Lahir Pancasila, ia menjadi pengingat bahwa kemajuan suatu daerah atau bangsa tidak hanya ditentukan oleh banyaknya orang yang berebut kekuasaan.

Lebih dari itu, kemajuan membutuhkan sosok-sosok yang mampu menghadirkan ilmu, integritas, keteladanan, dan visi kebangsaan yang panjang.

Sebab bangsa yang besar tidak lahir dari kemewahan semata, melainkan dari tradisi berpikir, budaya belajar, dan keberanian melahirkan negarawan-negarawan baru untuk masa depan.***