Padahal, lanjut dia, Madura pernah dikenal sebagai daerah yang melahirkan banyak sarjana dan tokoh nasional.
Ia menyebut sejumlah nama yang lahir dari tradisi intelektual kuat pada masa lalu. Namun setelah era reformasi, Mas Irul menilai regenerasi tokoh-tokoh besar itu tidak berjalan secepat yang diharapkan.
“Madura dulu pencetus banyak sarjana. Tapi sekarang coba lihat, mana tokoh-tokoh yang benar-benar menjadi peneliti besar, pemikir besar, atau tokoh nasional yang lahir setelah era reformasi?” katanya.
Dalam bidang keagamaan pun, ia menilai Madura pernah melahirkan ulama besar yang pengaruhnya melampaui batas wilayah. Namun generasi penerus dengan kapasitas serupa semakin jarang ditemukan.
Mencari Negarawan di Tengah Ramainya Politisi
Pada akhirnya, seluruh kegelisahan itu bermuara pada satu kesimpulan yang menurut Khairul layak menjadi bahan renungan bersama, khususnya pada peringatan Hari Lahir Pancasila.
Ia melihat ruang publik saat ini dipenuhi oleh politisi. Namun pada saat yang sama, figur-figur negarawan yang berpikir melampaui kepentingan kelompok dan generasi sendiri justru semakin sulit ditemukan.
Negarawan, dalam pengertiannya, bukan sekadar orang yang menduduki jabatan politik. Negarawan adalah mereka yang mampu menjaga nilai, memberikan teladan, membangun peradaban, dan menyiapkan masa depan bangsa.
Karena itulah ia melontarkan satu kalimat yang menjadi inti kegelisahannya.