Kegelisahan tersebut tidak berhenti pada soal perubahan orientasi hidup. Khairul melihat berbagai persoalan sosial yang kini muncul di Madura sebagai gejala dari hilangnya fondasi nilai dan pendidikan yang kuat.

Ia menyinggung maraknya peredaran narkoba, persoalan di lingkungan pendidikan, hingga berbagai bentuk penyimpangan sosial yang menurutnya perlu menjadi perhatian bersama.

Dalam pandangannya, bahaya narkoba bahkan dapat menggerus kekuatan suatu bangsa secara perlahan.

Mas Irul mengingatkan sejarah Perang Candu yang pernah terjadi antara Inggris dan Tiongkok pada abad ke-19. Saat itu, candu digunakan sebagai instrumen yang melemahkan masyarakat hingga berdampak luas terhadap stabilitas negara.

“Kalau dulu kita belajar sejarah, ada Perang Candu antara Cina dan Inggris. Kerajaan yang besar bisa dilemahkan lewat candu. Indonesia juga bisa mengalami hal seperti itu kalau tidak waspada,” ujarnya.

Ia mengaku prihatin melihat besarnya peredaran narkoba di Indonesia dan mempertanyakan bagaimana barang terlarang tersebut dapat terus masuk dalam jumlah besar.

“Yang tahu siapa yang bermain di balik narkoba tentu para penguasa dan aparat intelijen. Kenapa narkoba bisa berton-ton masuk ke Indonesia, itu yang harus dijawab,” kata pria yang saat ini menjadi anggota Komisi I DPRD Sumenep tersebut.

Antara Pertumbuhan Ekonomi dan Tanggung Jawab Sosial

Selain persoalan moral dan sosial, Mas Irul juga menyoroti sektor ekonomi daerah. Ia menilai pertumbuhan industri, khususnya industri rokok skala kecil, perlu dibarengi dengan kesadaran untuk berkontribusi terhadap pembangunan daerah.