SUMENEP, MaduraPost - Jalan raya selama ini identik sebagai jalur transportasi yang menunjang mobilitas masyarakat. Namun, konsep berbeda diusung Maharaya Festival 2026 dengan menjadikan ruang publik tersebut sebagai sumber inspirasi sekaligus fondasi utama dalam proses penciptaan karya tari.

Gagasan itu menjadi identitas utama festival yang akan digelar di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Para koreografer tidak hanya diminta menampilkan karya di jalan raya, tetapi juga menciptakan koreografi yang sejak awal dirancang berdasarkan karakter ruang tersebut.

Konsep tersebut membuat seluruh tahapan kreatif disusun dengan mempertimbangkan kondisi jalan raya sebagai panggung pertunjukan. Mulai dari eksplorasi gerak, komposisi penari, pola lantai, orientasi penampilan, hingga interaksi dengan penonton dirancang mengikuti karakter ruang terbuka tersebut.

Salah satu inisiator Maharaya Festival, Nur Khalis mengatakan, pendekatan itu menjadi pembeda dibandingkan pertunjukan tari di ruang publik yang selama ini umum dilakukan.

"Selama ini banyak pertunjukan tari di jalan raya, sebenarnya merupakan karya yang sebelumnya diciptakan untuk panggung konvensional, kemudian hanya dipindahkan ke ruang terbuka. Kami ingin membalik cara pandang itu. Jalan raya bukan sekadar tempat mempertunjukkan karya, tetapi menjadi ruang yang sejak awal melahirkan ide dan bahasa artistik koreografi," kata Khalis di Sumenep, Jumat (11/7).

Ia menjelaskan, setiap ruang memiliki karakter tersendiri yang akan memengaruhi keputusan artistik seorang koreografer. Karena itu, karya yang memang dirancang sejak awal untuk dipentaskan di jalan raya diyakini mampu menghadirkan pengalaman estetis yang berbeda dibandingkan karya yang lahir dari panggung konvensional.

"Pilihan gerak, arah hadap penari, komposisi pertunjukan, bahkan cara penonton menikmati karya tentu akan berbeda. Kami berharap Sumenep dapat menjadi daerah yang memulai tradisi penciptaan koreografi berbasis jalan raya," lanjutnya.

Melalui pendekatan tersebut, Maharaya Festival berupaya memperkenalkan perspektif baru dalam dunia seni pertunjukan. Jalan raya tidak lagi diposisikan hanya sebagai lokasi pementasan, melainkan menjadi elemen yang turut membentuk identitas artistik sebuah karya.

Selain menghadirkan pertunjukan seni, festival ini juga dirancang sebagai wadah kolaborasi lintas sektor, mulai dari seni pertunjukan, ekonomi kreatif, pariwisata, hingga pemberdayaan masyarakat.

Selama tiga hari pelaksanaan, pengunjung akan disuguhkan berbagai atraksi budaya serta keikutsertaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pria yang akrab disapa Abil ini berharap, Maharaya Festival berkembang menjadi ruang lahirnya inovasi baru di bidang seni pertunjukan, bukan sekadar agenda rutin tahunan.

"Kami ingin Maharaya menjadi ruang lahirnya cara-cara baru dalam berkarya. Semoga festival ini dapat menginspirasi para seniman untuk terus bereksperimen, sekaligus memperkuat posisi Sumenep sebagai daerah yang berani menawarkan inovasi dalam dunia seni pertunjukan," tuturnya.

Maharaya Festival 2026 mengangkat tema "Gelombang dari Pesisir" dan dijadwalkan berlangsung pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Kegiatan tersebut masuk dalam rangkaian Sumenep Calendar of Event 2026 dengan melibatkan akademisi dan praktisi tari, komunitas seni, sanggar, pelaku UMKM, masyarakat, serta Pemerintah Kabupaten Sumenep.***