Dan ketika malam jatuh, kantor itu tetap terang. Lampu menyala, kertas berserakan, pena tak henti menari. Di sanalah keadilan menemukan rumahnya.

Kelak, entah di pengadilan atau di jalanan, akan lahir lebih banyak jiwa yang berani berdiri. Bukan karena mereka tak takut kalah, tetapi karena mereka telah belajar dari LBH ini bahwa melawan adalah bagian dari mencintai kehidupan.

“Selama keadilan masih dicari, kami akan menjadi pelita, meski harus menyala di tengah badai," tutur Mas Kama dengan nada pelan namun penuh daya.***

SEPENGGAL PUISI MAS KAMA