***
Hujan mengguyur ibu kota dengan derasnya. Aku termenung, melupakan secangkir cappucino di depanku. Pikiranku melayang, membawaku menuju dimensi masa lalu.
Dulu, dulu sekali sebelum smartphone secanggih sekarang. Saat suara tawa lepas masih menghiasi pekarangan-pekarangan ruman, sawah-sawah petak, bukit-bukit terjal.
Sore itu, aku mengantarkan kopi untuk tamu ayah di beranda depan rumah, kamu disana, tertawa dengan renyahnya, mata almond-mu menyipit indah, menciptakan candu yang tak bisa kuungkapkan. Aku tertegun, menelan saliva dengan susah payah. Aku tertunduk malu saat mata almondmu tidak sengaja bertemu dengan mata hazelku. Ya tuhan aku malu.
Kudengar suara ayahku menginterupsiku agar segera menghampirinya. dengan langkah pelan dan debaran jantung yang menggila aku perlahan menuju tempat ayah berada.