Perasaan aneh mulai merayapi hati dan pikiranku. Aku tak yakin dengan apa yang aku rasakan waktu itu, rasanya seperti  ada hal yang hilang ketika aku melewatkan senja tanpa Adam.

Hingga hari ke 98 Adam masih sama, dia semakin menghindariku, aku sudah beberapa kali mengunjungi rumahnya, tapi yang kudapat hanya pembantu yang selalu mengatakan "den Adam sedang tidak ada di  rumah, baru saja berangkat." ahh alasan klise, kenapa tidak bilang saja kalau Adam tidak ingin menemuiku, gerukutu dalam hati.

Hari ke 107, aku menyerah, aku tidak lagi berkunjung ke rumah Adam. Tapi apa yang bisa aku lakukan jika seperti ini? aku memilih mundur dengan secercah harapan.