Mas Irul menilai, pemenuhan gizi menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Menurutnya, sarana pendidikan yang memadai tidak akan memberikan hasil optimal apabila peserta didik datang ke sekolah dalam kondisi lapar.
"Percuma membangun sekolah yang bagus kalau anak-anak belajar dalam keadaan lapar. Pemenuhan gizi menjadi modal utama agar mereka dapat mengikuti proses belajar dengan baik," ucapnya.
Selain berdampak pada sektor pendidikan, Hairul menyebut MBG juga mampu menciptakan efek berganda terhadap perekonomian daerah melalui keterlibatan petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM, hingga pemasok bahan pangan.
"Program ini membangun ekosistem ekonomi. Petani, peternak ayam, peternak telur, nelayan hingga UMKM ikut merasakan manfaat karena kebutuhan bahan baku terus meningkat," jelasnya.
Meski demikian, Mas Irul menegaskan pelaksanaan MBG tetap harus dievaluasi secara berkala agar berbagai kendala di lapangan dapat segera diperbaiki.
"Yang harus diperbaiki adalah sistem pelaksanaannya, bukan programnya. Kalau ada kekurangan, lakukan evaluasi sehingga pelaksanaannya semakin baik dan manfaatnya semakin dirasakan masyarakat," tegasnya.
Ia juga mengapresiasi FGD yang digelar PWRI Sumenep karena dinilai menjadi ruang dialog antara pemerintah, legislatif, media, dan masyarakat untuk merumuskan rekomendasi dalam penyempurnaan pelaksanaan Program MBG di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.***