SUMENEP, MaduraPost - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pangan peserta didik, tetapi juga dirancang sebagai strategi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas gizi, memperkuat ekonomi daerah, serta menekan angka kemiskinan.
Komitmen itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) "NgomBe (Ngobrol MBG): Program Berdampak, Lanjut atau Tidak?" yang digelar DPC Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Sumenep di Tanean Cafe, Kamis (9/7/2026).
Dalam forum tersebut, Kepala KPPG Surabaya, Kusmayanti, menegaskan bahwa MBG merupakan program nasional yang menyasar berbagai aspek pembangunan, bukan sekadar membagikan makanan kepada anak sekolah.
Menurutnya, intervensi gizi dilakukan secara berkelanjutan mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, balita hingga peserta didik agar mampu menciptakan generasi emas Indonesia pada masa mendatang.
"Tujuan MBG bukan hanya memberi makan anak sekolah. Program ini memiliki sasaran di bidang gizi, pendidikan, ekonomi, dan pengentasan kemiskinan. Harapannya, anak-anak yang menerima manfaat hari ini akan menjadi generasi emas Indonesia 20 tahun mendatang," ujar Kusmayanti, Kamis pagi.
Ia menjelaskan, pemerataan akses terhadap makanan bergizi menjadi perhatian pemerintah, terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah dengan keterbatasan akses pangan, termasuk daerah kepulauan.
Selain itu, program tersebut juga menjadi sarana edukasi bagi anak-anak untuk membiasakan pola makan sehat dan bergizi seimbang sejak usia dini.
Kusmayanti menambahkan, MBG turut memberikan dampak ekonomi karena anggaran negara berputar langsung di daerah melalui operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
"APBN yang dialokasikan untuk MBG langsung menggerakkan ekonomi masyarakat. Ada relawan yang memperoleh penghasilan, kemudian petani, peternak, nelayan, UMKM hingga toko sembako ikut menikmati perputaran ekonomi dari kebutuhan bahan baku SPPG," katanya.