PAMEKASAN, MaduraPost - Polemik antara PT Linggarjati Trijaya Indah selaku pengembang Perumahan Bukit Damai dengan BSN KCP Pamekasan, Madura, Jawa Timur, semakin melebar.

Selain mempersoalkan mekanisme appraisal proyek, pihak developer kini menyoroti pola komunikasi dan kepemimpinan di internal kantor cabang tersebut.

Direktur PT Linggarjati Trijaya Indah, Nanda Wirya Laksana, menilai lambannya respons yang diberikan BSN KCP Pamekasan telah menghambat proses kerja sama pembiayaan yang sebelumnya diajukan oleh pihaknya. Menurut dia, berkas yang telah lama diserahkan belum menunjukkan perkembangan yang jelas.

“Berkas sudah kami masukkan ke BSN KCP Pamekasan. Namun sampai sekarang belum ada kejelasan yang kami harapkan. Komunikasi dengan pimpinan cabang juga sangat lambat,” ujar Wirya kepada wartawan, Selasa (16/6).

Kekecewaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan proses administrasi. Wirya menilai cara komunikasi yang ditunjukkan jajaran BSN KCP Pamekasan mencerminkan persoalan kepemimpinan yang lebih mendasar.

Menurutnya, sikap sebagian pihak di lingkungan kantor cabang tersebut terkesan tidak menunjukkan semangat membangun kemitraan dengan pelaku usaha.

“Pemimpin yang tidak siddiq akan menghasilkan anak buah yang songong,” kata Wirya saat menanggapi buruknya komunikasi yang ia rasakan selama proses pengajuan kerja sama berlangsung.

Ia menilai, lembaga perbankan seharusnya membuka ruang komunikasi yang sehat dengan calon mitra bisnis. Sebab, hubungan antara sektor perbankan dan pengembang perumahan merupakan kerja sama yang saling membutuhkan.

“Kami sangat menyayangkan sulitnya komunikasi yang terjadi. Kesan yang muncul seolah-olah tidak membutuhkan mitra maupun nasabah. Padahal sektor perbankan dan dunia usaha seharusnya saling mendukung untuk mendorong pertumbuhan bisnis,” tuturnya.