Menurut KH Imam Jazuli, seluruh agenda tersebut tentu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, baik melalui regulasi, pembiayaan, maupun sinergi lintas sektor. 
 

NU perlu terus menjalin hubungan yang harmonis dengan pemerintah serta berbagai elemen bangsa yang memiliki komitmen terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Tujuannya bukan untuk kepentingan politik praktis, melainkan demi memperjuangkan kemaslahatan umat sekaligus memperkuat kontribusi NU dalam pembangunan nasional,” ujarnya. 
 

Pertukaran Cenderamata Sarat Makna 

Sebagai penutup rangkaian silaturahmi, kedua tokoh saling bertukar cenderamata sebagai simbol penghormatan dan persaudaraan.

Prof. Nasaruddin Umar menyerahkan sejumlah buku terbaru terbitan Kementerian Agama. Sebaliknya, KH Imam Jazuli menghadiahkan sebuah keris pusaka khas Cirebon bernama Pandawa Cinarita, yang selama ini tersimpan di ndalem Pondok Pesantren Bina Insan Mulia. 
 

Keris berdhapur luk lima tersebut mengandung filosofi keseimbangan, keteguhan moral, dan kewibawaan seorang pemimpin. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merepresentasikan lima karakter utama Pandawa, yakni kejujuran, keteguhan, keberanian, kebijaksanaan, serta kelembutan yang berpadu dalam satu kesatuan. 
 

“Pusaka ini merupakan simbol harapan agar setiap pemimpin senantiasa berpegang pada nilai moral, kebijaksanaan, dan pengabdian kepada umat. Setiap pusaka yang saya hadiahkan selalu disesuaikan dengan karakter serta amanah yang diemban penerimanya,” pungkas KH Imam Jazuli.