Ada rantai birokrasi panjang yang seharusnya menjadi pagar pengaman. Jika pagar itu jebol, publik berhak bertanya mengapa.

Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa Abdul Hamid dan keluarganya mengaku masih merasakan dampaknya sampai hari ini.

Setiap bulan dana pensiun dipotong. Setiap bulan mereka mengingat kembali perkara yang tidak pernah mereka inginkan. Sementara waktu terus berjalan.

Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Tujuh tahun adalah masa yang cukup bagi seorang anak masuk sekolah dasar dan lulus.

Tujuh tahun adalah masa yang cukup untuk membangun karier. Tujuh tahun juga merupakan waktu yang terlalu lama bagi seorang pensiunan untuk menunggu kepastian.

Dalam rentang waktu selama itu, publik belum melihat langkah yang mampu mengakhiri seluruh tanda tanya. Yang terlihat justru sebaliknya. Pertanyaan terus bertambah.

Nama-nama baru terus muncul. Pengakuan-pengakuan baru terungkap di persidangan. Sementara korban masih menunggu.

Karena itu, persoalan terbesar dalam kasus Abdul Hamid sesungguhnya bukan perkara hukum semata. Pengadilan akan memutus siapa yang bersalah.

Hakim akan menilai alat bukti. Jaksa akan membuktikan dakwaannya. Tetapi ada satu pengadilan lain yang juga sedang berjalan.