SUMENEP, MaduraPost - Sikap berbeda ditunjukkan kalangan perguruan tinggi di Madura terkait rencana keterlibatan kampus dalam pengelolaan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Rektor Universitas Bahaudin Mudhary (Uniba) Madura, Prof. Rachmad Hidayat, memilih bersikap hati-hati terhadap wacana tersebut.
Ia menilai perguruan tinggi sebaiknya tetap menjaga posisi sebagai institusi akademik, bukan masuk terlalu jauh ke ranah operasional yang dinilai memiliki kepentingan bisnis.
“Kalau menurut saya, kampus adalah lembaga akademik. Kurang pas kalau kampus juga terlibat dalam SPPG,” tegasnya, Jumat (22/5).
Meski demikian, Prof. Rachmad memastikan pihaknya tetap mendukung penuh program pemerintah dalam pemenuhan gizi anak.
Hanya saja, menurut dia, kontribusi kampus lebih tepat diarahkan pada fungsi akademik seperti pengawasan, penelitian, edukasi, hingga pendampingan program.
“Kami mendukung penyediaan gizi untuk anak-anak bangsa. Tapi lebih baik kampus menjadi lembaga yang mengawasi kegiatan SPPG saja,” ujarnya.
Ia menekankan, perguruan tinggi harus menjaga independensi dan identitasnya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan.
Keterlibatan langsung dalam pengelolaan dapur MBG dikhawatirkan dapat mengaburkan peran utama kampus.
“SPPG ini kan juga ada sisi bisnisnya. Kampus itu lembaga akademik non-waralaba. Kami harus menjaga marwah kampus sebagai lembaga akademik,” katanya.
Sementara itu, pandangan berbeda datang dari Rektor Universitas Trunojoyo Madura, Safi’. Ia justru melihat pelibatan perguruan tinggi dalam program MBG sebagai langkah strategis untuk memperkuat tata kelola sekaligus pengawasan program secara profesional.
“Menurut saya, keputusan melibatkan perguruan tinggi memiliki keunggulan tersendiri, terutama dalam memastikan pengelolaan dan pengawasan program berjalan optimal,” ujarnya.
Safi’ juga menyatakan kesiapan kampusnya jika nantinya dipercaya menjadi mitra SPPG berbasis perguruan tinggi.
Menurut dia, kampus memiliki kapasitas sumber daya manusia, jejaring sosial, dan kemampuan akademik yang memadai untuk menopang program nasional tersebut.
Sebelumnya, Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong perguruan tinggi menjadikan program MBG sebagai “laboratorium hidup” guna mendukung penguatan riset, pengabdian masyarakat, dan pengembangan pendidikan lintas disiplin.***