“SPPG ini kan juga ada sisi bisnisnya. Kampus itu lembaga akademik non-waralaba. Kami harus menjaga marwah kampus sebagai lembaga akademik,” katanya.
Sementara itu, pandangan berbeda datang dari Rektor Universitas Trunojoyo Madura, Safi’. Ia justru melihat pelibatan perguruan tinggi dalam program MBG sebagai langkah strategis untuk memperkuat tata kelola sekaligus pengawasan program secara profesional.
“Menurut saya, keputusan melibatkan perguruan tinggi memiliki keunggulan tersendiri, terutama dalam memastikan pengelolaan dan pengawasan program berjalan optimal,” ujarnya.
Safi’ juga menyatakan kesiapan kampusnya jika nantinya dipercaya menjadi mitra SPPG berbasis perguruan tinggi.
Menurut dia, kampus memiliki kapasitas sumber daya manusia, jejaring sosial, dan kemampuan akademik yang memadai untuk menopang program nasional tersebut.
Sebelumnya, Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong perguruan tinggi menjadikan program MBG sebagai “laboratorium hidup” guna mendukung penguatan riset, pengabdian masyarakat, dan pengembangan pendidikan lintas disiplin.***