SURABAYA, MaduraPost - Polrestabes Surabaya mengungkap praktik perjokian Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 yang ternyata telah berjalan hampir satu dekade.
Jaringan ini tersusun rapi, melibatkan lintas profesi, dan mematok biaya fantastis bagi calon mahasiswa yang ingin menembus kampus favorit, khususnya Fakultas Kedokteran.
Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, menjelaskan sindikat tersebut bekerja dengan pola terstruktur dan sistematis. Tarif yang dipasang bahkan menembus ratusan juta rupiah per peserta.
Berikut rangkuman fakta pengungkapan kasus tersebut:
1. Terkuak karena Tak Mampu Berbahasa Madura
Kasus ini terendus pada hari pertama UTBK di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), 21 April 2026. Seorang peserta berinisial HRS yang mengaku sebagai HER asal Sumenep dicurigai pengawas karena foto pada ijazah tidak identik dengan wajahnya.
Kecurigaan makin menguat ketika salah satu pengawas yang berasal dari Madura mencoba berkomunikasi menggunakan bahasa daerah tersebut.
"Kebetulan saat itu salah satu pengawas juga orang Madura, tapi setelah tersangka ditanya pakai bahasa Madura, dia tidak bisa menjawab," ujar Luthfie dalam konferensi pers di Mapolrestabes Surabaya, Kamis (7/5/2026).
2. Sudah Berjalan Sejak 2017