“Tidak ada yang namanya orang mengakui kesalahan membuat marwah pribadi maupun organisasi menjadi jatuh. Justru ketika kesalahan diakui, marwah dan kehormatan itu akan semakin tinggi karena masyarakat akan respect,” ujarnya.
Untuk memperkuat pandangannya, Wirya mengisahkan sebuah peristiwa bersejarah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Kisah itu bermula dari seorang laki-laki tua Yahudi yang tinggal di sebuah gubuk tidak layak huni, berdekatan dengan Istana Gubernur Amr bin Ash di Mesir.
Pada suatu waktu, Amr bin Ash berniat melakukan perluasan masjid yang berada di lingkungan istananya.
Namun, rencana tersebut terhalang oleh keberadaan gubuk milik laki-laki Yahudi tersebut. Amr bin Ash kemudian memerintahkan jajarannya untuk membeli gubuk itu, bahkan dengan harga di atas nilai pasar.