Ia menyebut para pekerja sudah menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab dan bekerja bukan semata-mata untuk perusahaan, melainkan demi memberikan nafkah bagi keluarga.
Ia sendiri mengaku berada di lingkar penyusunan kebijakan itu. Meski secara nominal gajinya relatif aman, namun ia merasa kebijakan tersebut menimbulkan beban moral.
Baca Juga:Tambak Garam di Desa Gersik Putih Semakin Liar, Kuat Dugaan Adanya Kongkalikong Pemdes dan Investor?
Sehingga ia pun memutuskan resign dan kini, lebih memilih kejar nasib di perantauan dengan membuka usaha kecil di Jakarta.
“Saya memilih mundur. Daripada harus membela keputusan yang tidak adil,” katanya.