SUMENEP, MaduraPost - Keluhan Mohammad Madani (35), warga Desa Duko, Kecamatan Rubaru, Sumenep, Madura, Jawa Timur, terkait pengiriman tiga barang melalui J&T Cargo berlanjut.
Setelah mempersoalkan permintaan biaya tambahan dan cara komunikasi kurir di Sumenep, Madani juga menghubungi pihak J&T Cargo Sukolilo, Surabaya, tempat ia mengirim barang tersebut.
Dalam percakapan melalui WhatsApp itu, pihak J&T Cargo Sukolilo meminta Madani tidak menjemput sendiri barangnya. Mereka memastikan pengiriman tetap dilakukan sampai alamat tujuan sebagaimana layanan yang telah dibayar Madani.
"Nda usah dijawab Pak. Pak sudah jangan dihiraukan," demikian pesan dari pihak J&T Cargo Sukolilo kepada Madani, Rabu (7/10/2026) malam.
Pihak J&T Cargo Sukolilo kemudian meminta waktu untuk menyelesaikan proses pengantaran barang tersebut.
"Saya minta waktu sampai besok, kita antar sampai alamat," tulisnya.
Dalam percakapan yang sama, pihak J&T Cargo Sukolilo juga menegaskan bahwa Madani tidak perlu mengambil barangnya sendiri karena biaya pengiriman yang dibayarkan sudah mencakup pengantaran ke alamat.
"Jangan dijemput. Bapak bayar Jnt Cargo sudah sampai alamat. Ini kurir goblog. Orang gila itu Pak," demikian isi pesan tersebut.
Pihak J&T Cargo Sukolilo juga memastikan tidak akan ada pungutan tambahan kepada Madani untuk pengiriman barang tersebut.
"Dipastikan tidak ada uang tambahan sama sekali," tulisnya.
Pernyataan tersebut menjadi perkembangan baru dalam persoalan yang sebelumnya dikeluhkan Madani.
Sebab, menurut pengakuannya, kurir J&T Cargo di Sumenep sempat menyampaikan adanya kebutuhan biaya tambahan apabila barang hendak diantar ke rumah menggunakan kendaraan lain.
Madani sebelumnya mengatakan tiga barang tersebut dikirim dari Surabaya pada Senin (5/10/2026). Total biaya pengiriman disebut mencapai lebih dari Rp1 juta dan pembayaran dilakukan untuk pengantaran hingga rumahnya di Desa Duko, Kecamatan Rubaru.
Persoalan muncul ketika kurir di Sumenep menghubungi istrinya selaku penerima. Menurut Madani, kurir menyampaikan bahwa pengantaran tiga barang berukuran besar hanya mendapatkan komisi sekitar Rp1.000.
"Kalau nganter 3 barang itu ke rumah saya hanya dapat komisi Rp1 ribu rupiah, itu sama halnya seperti ngantar paket kecil lainnya," ujar Madani menirukan ucapan kurir, Rabu sore.
Madani juga keberatan karena barang miliknya disebut dibandingkan dengan paket-paket lain yang berukuran lebih kecil. Ia menilai kendala armada seharusnya disampaikan dengan komunikasi yang baik sejak awal, termasuk apabila memang diperlukan kendaraan tambahan.
"Andaikan dari awal ngomong ke saya, misal, Pak ini mobil saya tidak muat, gimana kalau saya sewakan mobil lain tapi bapak nambah uang, nggak ada masalah andai ngomong begitu sedari awal," katanya.
Sementara itu, dalam voice note yang dikirimkan kurir kepada Madani melalui WhatsApp, kurir menjelaskan bahwa keterbatasan armada menjadi salah satu kendala pengiriman. Ia menyebut tiga kendaraan yang tersedia sedang digunakan untuk mengantar barang ke sejumlah wilayah.
"Di sini Pak, mobil ada 3, satunya itu ke Batuputih, besar-besar yang dimuat, ada bonsai dan semacamnya. Kalau mobil satunya ke Prancak. Banyak-banyak itu sekarang event," ujar kurir dalam voice note tersebut.
Kurir juga menyebut barang Madani berupa kulkas, sedangkan kendaraan yang tersedia adalah Toyota Innova. Menurutnya, barang tersebut dikhawatirkan rusak apabila harus dimiringkan.
"Barang sampeyan kan kulkas, sementara mobil saya itu Innova, kalau dimiringkan takut rusak. Ya nggak apa-apa kalau sampeyan tetap maunya dikirim, saya kirim, tapi kalau rusak saya tidak tanggung jawab," katanya.
Kurir kemudian menyampaikan bahwa tambahan ongkos diperlukan apabila harus mencarikan kendaraan lain untuk mengantar barang.
"Tambahan ongkos itu Pak untuk saya cari mobil. Kalau misal nggak ada mobil, paketnya sampeyan ada di sini," ujarnya.
Namun, dalam komunikasi dengan pihak J&T Cargo Sukolilo, Madani justru mendapatkan penegasan bahwa pengiriman akan dilakukan sampai alamat dan tidak ada biaya tambahan.
Di sisi lain, persoalan pengiriman barang berukuran besar memang memiliki sejumlah aspek yang berbeda dibandingkan paket berukuran kecil.
PR Media Relations J&T Cargo Indonesia, Natalia Pangaribuan menjelaskan, bahwa pengiriman furniture, perlengkapan rumah tangga hingga kebutuhan usaha memiliki tantangan tersendiri, mulai dari ukuran dan berat barang, karakteristik barang, tujuan pengiriman hingga kebutuhan setelah barang tiba.
"Ketika mengirim barang berukuran besar, pelanggan biasanya memiliki pertanyaan yang cukup beragam, mulai dari bagaimana menghitung ongkir hingga bagaimana memastikan barang siap dikirim,” ujar Natalia dalam siaran persnya, sebagaimana dikutip MaduraPost dari JPNNdotcom, Kamis (8/10) pagi.
Melalui kampanye 'Besar Barangnya, Gampang Kirimnya', J&T Cargo disebut ingin membantu pelanggan memahami sejumlah hal yang perlu dipersiapkan sebelum mengirim barang berukuran besar.
Informasi mengenai barang sejak awal juga dinilai penting agar pelanggan dapat memahami kebutuhan pengiriman sekaligus memperkirakan biaya yang harus disiapkan.
Bagi Madani, persoalan tersebut kini bukan sekadar mengenai besar-kecilnya barang ataupun kendala kendaraan. Ia menilai komunikasi kepada pelanggan dan kejelasan mengenai biaya pengiriman harus menjadi perhatian.
"Saya meminta kepada J&T Cargo dari Sumenep hingga pusat, pecat aja kurir semacam itu, cara komunikasinya nggak baik," tegas Madani.
Ia juga berharap barang yang dikirim tetap sampai ke rumah dalam kondisi baik tanpa kerusakan.
"Saya ingin, barang itu tetap diantar ke rumah saya, dan barang tidak ada yang lecet sampai ke tempat tujuan," ujarnya.***