"Dipastikan tidak ada uang tambahan sama sekali," tulisnya.
Pernyataan tersebut menjadi perkembangan baru dalam persoalan yang sebelumnya dikeluhkan Madani.
Sebab, menurut pengakuannya, kurir J&T Cargo di Sumenep sempat menyampaikan adanya kebutuhan biaya tambahan apabila barang hendak diantar ke rumah menggunakan kendaraan lain.
Madani sebelumnya mengatakan tiga barang tersebut dikirim dari Surabaya pada Senin (5/10/2026). Total biaya pengiriman disebut mencapai lebih dari Rp1 juta dan pembayaran dilakukan untuk pengantaran hingga rumahnya di Desa Duko, Kecamatan Rubaru.
Persoalan muncul ketika kurir di Sumenep menghubungi istrinya selaku penerima. Menurut Madani, kurir menyampaikan bahwa pengantaran tiga barang berukuran besar hanya mendapatkan komisi sekitar Rp1.000.
"Kalau nganter 3 barang itu ke rumah saya hanya dapat komisi Rp1 ribu rupiah, itu sama halnya seperti ngantar paket kecil lainnya," ujar Madani menirukan ucapan kurir, Rabu sore.
Madani juga keberatan karena barang miliknya disebut dibandingkan dengan paket-paket lain yang berukuran lebih kecil. Ia menilai kendala armada seharusnya disampaikan dengan komunikasi yang baik sejak awal, termasuk apabila memang diperlukan kendaraan tambahan.
"Andaikan dari awal ngomong ke saya, misal, Pak ini mobil saya tidak muat, gimana kalau saya sewakan mobil lain tapi bapak nambah uang, nggak ada masalah andai ngomong begitu sedari awal," katanya.
Sementara itu, dalam voice note yang dikirimkan kurir kepada Madani melalui WhatsApp, kurir menjelaskan bahwa keterbatasan armada menjadi salah satu kendala pengiriman. Ia menyebut tiga kendaraan yang tersedia sedang digunakan untuk mengantar barang ke sejumlah wilayah.