Sementara itu, Sayuti selaku penyelenggara menegaskan Madura Batik Fest 2026 bukan agenda seremonial semata, melainkan gerakan berkelanjutan untuk menghidupkan kembali budaya lokal yang mulai terpinggirkan.

“Acara ini akan panjang dan berlanjut. Nanti akan kami buat pamerannya juga. Kami ingin mengangkat budaya Sumenep,” katanya.

Ia menyebut, dalam kurun satu tahun mendatang, pihaknya menargetkan setidaknya enam agenda kebudayaan, terutama bagi tradisi yang kian jarang mendapat perhatian publik.

“Kami berharap peserta yang hadir hari ini nanti bisa hadir kembali pada kegiatan bulan depan. Ini akan menjadi gerakan bersama untuk menjaga budaya,” imbuhnya.

Ketua IPNU Sumenep, Ainun Yakin, menegaskan keterlibatan IPNU dan IPPNU menjadi wujud kepedulian pelajar terhadap pelestarian budaya Madura, khususnya batik.

“Sebagai organisasi yang fokus di bidang pendidikan, IPNU dan IPPNU hadir untuk ikut melestarikan budaya di Madura, khususnya batik,” ujarnya.

Ia berharap para pelajar mampu tampil sebagai duta budaya yang aktif memperkenalkan batik kepada masyarakat luas.

“Pelajar adalah generasi muda yang akan bertanggung jawab di masa depan. Karena itu, tugas melestarikan budaya bukan hanya milik pemerintah atau tokoh budaya saja, tetapi menjadi tanggung jawab semua elemen masyarakat,” tandasnya.***