Misgilomi diambil dari perpaduan kata hari "Kamis Legi, bulan Mei 1972, tepat saat bulan purnama tiba". Kala itu, menurut cerita rakyat yang diadopsi, sumber mata air keluar dari permukaan tanah, meledak hingga terkenallah Sumber Aeng Banger sampai saat ini.
Ketua Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Kaduara Timur, Usman Efendi menerangkan, dulu kawasan perbatasan Sumenep-Pamekasan tersebut adalah tempat singgah para Adipati Raja Keraton Songennep.
Bahkan, tempat itu disebut-sebut sempat dijadikan tempat pemandian "Potre Koneng". Potre Koneng, adalah Putri dari Pangeran Soccadiningrat II, Raja Sumenep yang berkuasa sekitar tahun 1366 sampai 1386, dan keratonnya pada waktu itu masih berada di Desa Banasare, Kecamatan Rubaru.
"Kisah dan cerita rakyat dulu, Potre Koneng kalau sudah selesai menstruasi, pasti bersuci di sumber ini," tutur Usman, menceritakan kisah yang berkembang di tengah masyarakat.
Sebab itu, mitos tersebut tetap dipegang teguh oleh warga sekitar. Tak menutup kemungkinan, para pelancong banyak mengadopsi tentang mitos keberadaan Sumber Aeng Banger yang dapat menyembuhkan segala ragam penyakit tersebut.