Saya sempat ikut mencari pembuat foto undangan itu. Sebab foto itulah yang menjadi muasal Pak Atman kembali kecewa. Beragam versi saya temui. Secara umum, ceritanya begini: (katanya) ada perwakilan keluarga Pak Atman yang datang ke kantor Sumenep" class="inline-tag-link">Kemenag Sumenep.
Di sana, perwakilan keluarga itu menemui kepala Kemenag. Mereka bertanya kepastian berangkat tidaknya Pak Atman ke Mekah. Saat itu pula, Kemenag memastikan, Pak Atman tetap gagal berangkat.
Sebelum pamit pulang, katanya, satu diantara perwakilan yang mengaku keluarga itu meminta izin untuk memfoto surat undangan pemberangkatan haji milik Pak Atman. Setelah itu, cerita menjadi buram. Tahu-tahu, seorang tetangga Pak Atman yang menerima foto undangan itu, tergopoh-gopoh menemui Pak Atman.
Dia memberitahu, bahwa, Pat Atman jadi berangkat ke tanah suci. Pak Atman mendadak bahagia. Tak lama setelah itu, video sujud syukur Pak Arman ramai se jagad raya. Hoaks itu menyebar kemana-mana. Dan akhirnya, Pak Atman kecewa untuk kedua kalinya.
Se islam dan se kafir apapun pembawa hoaks itu, tentu telah menambah luka seseorang yang baik, yang dengan besar hati dan segala upaya ingin bertamu ke rumah-Nya. Tapi nyatanya, kekecewaan pertama yang diterima Pak Atman, dianggap oleh si pembawa hoaks masih belum seberapa.