SUMENEP, MaduraPost - Saya menghapus tiga kata bangsat dalam catatan ini. Pertama, karena kata serupa itu jarang sekali saya utarakan. Terutama dalam sebuah catatan. Kedua, saya sadari bahwa marah itu tak perlu mengumpat seenaknya.
Katanya, mengumpat itu ada seninya. Memang ungkapan itu ada benarnya. Akan tapi ketika orang tua gigih macam Pak Atman yang dipermainkan? siapa yang tidak iba, kan?
Pak Atman adalah laki-laki yang dua kali disakiti. Pertama, dia gagal berangkat ke tanah suci. Kedua, diprank sujud syukur hingga akhirnya dia kecewa lagi.
Saya ceritakan. Pak Atman (64) adalah seorang calon jamaah haji asal desa Sambakati, Kecamatan Arjasa, pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, yang dinyatakan gagal menunaikan ibadah haji, tiga hari sebelum berangkat.
Publik yang mendengar itu, turut prihatin. Kawan-kawan jurnalis memberitakannya. Dengan harapan kejadian serupa tidak terulang. Di sejumlah warung kopi, nama Pak Atman sesekali muncul sebagai bahan perbincangan. Para pengkopi mania ikut prihatin dan iba.