Namun, aturan ini diperlukan untuk menegaskan standar pemakaian agar sesuai dengan literatur dan nilai historis yang benar.

Ia mencontohkan penggunaan beskap kanigara yang diperuntukkan bagi Bupati dan Forkopimda, sementara beskap bilebanten digunakan oleh peserta atau tamu undangan pada kegiatan adat, khususnya peringatan hari jadi.

Selama ini, masih terdapat variasi model pakaian yang dianggap tidak seragam sehingga perlu ditata ulang melalui regulasi.

“Ini kita atur agar jelas peruntukannya dan sesuai pakem, supaya tidak terjadi perbedaan yang keliru di momentum-momentum adat,” katanya.