“Setelah proyek selesai malah harus bersih-bersih lagi. Dulu ruang kelas ada kacanya, sekarang justru tidak ada. Sisa coran masih ada di dalam kelas, kacanya juga ditumpuk bersama bekas cor,” ungkap salah satu wali murid dengan nada kecewa, Kamis (15/1/2026) lalu.

Keluhan tidak hanya datang dari dalam ruang kelas. Area sekolah juga dipenuhi material sisa bangunan, sehingga lingkungan sekolah menyerupai lokasi pembuangan limbah proyek.

Kondisi tersebut memaksa siswa dan guru melakukan kerja bakti, yang berdampak langsung pada terganggunya proses belajar mengajar.

“Sekolah ini seperti dijadikan tempat buang sampah proyek. Murid sampai ikut kerja bakti, akibatnya kegiatan belajar mengajar tidak berjalan normal,” lanjutnya.