Prinsip Bhinneka Tunggal Ika, lanjut Thoha, telah menjadi praktik sosial sejak masa Kerajaan Majapahit.
“Kita ini bangsa yang sudah lama mengenal hidup dalam perbedaan. Tantangannya sekarang, apakah kita mau merawatnya atau justru merusaknya dengan merasa paling benar,” ujarnya.
Menurutnya, generasi muda perlu membekali diri dengan sikap kritis dalam menyaring informasi, terutama di ruang digital.
Tanpa fondasi kebangsaan yang kuat, media sosial justru berpotensi memperlebar jurang konflik dan memperkuat polarisasi.
“Kalau kita tidak hati-hati, kita hanya akan menjadi penonton dan penyebar sampah konflik,” tambahnya.