“Yang mereka lakukan bukan lagi menyuarakan aspirasi, tapi membangun narasi palsu untuk menebar ketakutan,” kata seorang tokoh pemuda Kangean yang meminta identitasnya dirahasiakan, Rabu (12/11).
Ia menyayangkan, semangat kritik yang seharusnya menjadi bagian dari demokrasi justru berubah menjadi alat provokasi.
Menurutnya, jika situasi ini terus dibiarkan, bukan hanya pembangunan yang akan terhambat, tetapi juga tatanan sosial yang telah lama terbentuk di pulau itu.
“Kangean bisa kehilangan kepercayaannya sendiri. Orang jadi saling curiga, saling menjatuhkan,” ujarnya.