Fenomena provokasi digital ini menandai gejala yang lebih dalam, krisis moral di tengah masyarakat yang semakin terpolarisasi oleh isu pembangunan.
Beberapa warganet mulai menyoroti bahwa konflik di dunia maya telah merembes ke dunia nyata, muncul ketegangan antar tokoh desa, perpecahan antar kelompok muda, hingga renggangnya hubungan antar keluarga.
“Bukan soal setuju atau tidak setuju terhadap proyek seismik,” tuturnya.
“Masalahnya adalah bagaimana media sosial kini digunakan untuk mengaburkan kebenaran dan menumbuhkan kebencian," tambah dia.
Dalam situasi ini, banyak pihak menyerukan agar masyarakat Kangean lebih berhati-hati dalam menyerap informasi.