Menjelang siang, keramaian mulai mereda. Pedagang berkemas, pembeli pulang, dan lorong kembali lengang. Namun, jejak aroma, suara, dan tatapan hangat pagi ini akan tertinggal di ingatan sebuah potret kecil dari kehidupan kota yang tak akan digantikan oleh pusat perbelanjaan modern mana pun.
Pasar tanpa nama di belakang Masjid Jamik ini mungkin tak tercatat di peta, tapi ia hidup di hati warganya. Ia adalah cermin kehidupan yang paling jujur, di mana setiap hari adalah cerita baru, dan setiap wajah adalah bagian dari keluarga besar Bangselok.***