Pasar tanpa nama ini bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah ruang sosial yang merawat kebersamaan warga. Di sini, kabar terbaru tentang keluarga, harga kebutuhan pokok, bahkan cerita lucu dari kejadian kemarin dibagi tanpa sekat. Setiap tawa dan sapaan menjadi benang yang merajut keakraban.
Tak jauh dari kerumunan, seorang kakek duduk di atas becaknya. Catnya terkelupas, bannya sedikit kempes, namun tatapannya penuh harap.
Becak itu telah membawanya melewati perubahan zaman, dari jalanan yang lengang hingga riuhnya lalu lintas hari ini. Ia menunggu, mungkin penumpang, mungkin sekadar obrolan hangat dengan teman lama.
Di atas kepala, bendera merah putih berkibar pelan, diapit oleh kabel listrik yang bersilang. Sebuah pengingat bahwa pasar ini, sekecil dan sesederhana apa pun, adalah bagian dari denyut kebangsaan.
Ia berdiri tepat di bawah bayang menara Masjid Jamik, seakan menyatu dalam harmoni antara aktivitas dunia dan nilai spiritual.