Tak hanya itu, di berbagai sudut trotoar dan warung kopi juga banyak yang bertanya seperti siapa rupa kedua wartawan yang mendapat perlakuan kekerasan itu.

Sebagai wartawan baru, wajar mereka yang sudah senior saja tanya kepada yang masih junior. Barangkali, mereka tak pernah bertemu atau bahkan pernah bertemu cuma tidak saling kenal. Mungkin begitu sih.

Dari saking semangatnya mengusut dugaan kekerasan terhadap kedua wartawan itu, aksi solidaritas pun digelar di depan Mapolres Sumenep melibatkan sejumlah kuli tinta lintas organisasi hingga aktivis.

Mereka menyuarakan hal yang sama yakni penegakan hukum. Selain itu, mereka juga menegaskan bahwa kerja jurnalistik dilindungi oleh undang-undang. Sehingga, siapapun yang menghalangi atau bahkan berbuat kekerasan terhadap para kuli tinta maka wajib hukumnya untuk ditindak tegas.