SUMENEP, MaduraPost - Ada satu nama yang tiba-tiba muncul ketika Ketua DPRD Sumenep, Haji Zainal Arifin, ditanya mengenai kasus kematian seorang santri di RS Baghraf Health Care (BHC).
Bukan nama direktur rumah sakit. Bukan pula nama pejabat Dinkes P2KB Sumenep. Melainkan MH Said Abdullah.
Nama politikus senior PDI Perjuangan itu terlontar di tengah wawancara yang semula membahas pertanyaan sederhana.
Apakah keluarga almarhum Moh. Firman Ramadhani alias Dani benar-benar telah berdamai dengan RS BHC?
Sabtu siang, 31 Oktober 2026, suasana di sekitar Gedung DPRD Sumenep masih diwarnai aktivitas setelah rapat paripurna Hari Jadi ke-757 Kabupaten Sumenep.
Sejumlah wartawan kemudian meminta keterangan Zainal mengenai perkembangan polemik kematian Dani.
Alih-alih memberikan penjelasan yang lebih jauh, Zainal justru mempertanyakan alasan kasus tersebut masih ditanyakan.
"Memang kenapa di RS BHC dengan kematian itu? Kan masyarakat, keluarga yang meninggal sudah memaafkan, sudah ada pertemuan antara pihak BHC dengan beliau," kata Zainal, Sabtu siang.
Ia mengaku memperoleh informasi mengenai perdamaian tersebut dari anggota Komisi IV DPRD Sumenep.