OPINI, MaduraPost - Ketua DPRD Sumenep, H. Zainal Arifin, mengeluarkan pernyataan yang menarik perhatian ketika diwawancarai awak media mengenai kasus kematian pasien di Rumah Sakit Baghraf Health Care (RS BHC).

Ketika ditanya mengenai persoalan tersebut, politisi PDI Perjuangan itu justru mengatakan kalimat menggelitik.

"Kenapa nanyak ke saya soal BHC, nanti saya dimarahi Pak Said," kata Zainal, Sabtu siang.

Pernyataan yang diberitakan MaduraPost pada Sabtu (31/10) itu bukan sekadar ucapan spontan yang bisa berlalu begitu saja.

Sebab, kalimat tersebut keluar dari seorang Ketua DPRD, pejabat publik yang semestinya dapat memberikan penjelasan mengenai persoalan yang menjadi perhatian masyarakat.

Ada sesuatu yang patut direnungkan dari kalimat tersebut. Mengapa pertanyaan mengenai sebuah rumah sakit yang sedang menjadi sorotan publik harus dikaitkan dengan kemungkinan dimarahi seseorang?

Mengapa nama Said Abdullah justru muncul ketika yang ditanyakan adalah sikap dan pengetahuan seorang pimpinan lembaga legislatif?

Tentu, Zainal berhak memiliki hubungan personal dengan siapa pun. Begitu pula Said Abdullah, yang memiliki relasi dengan banyak kalangan.

Namun, persoalannya bukan pada hubungan personal tersebut. Persoalannya adalah ketika hubungan itu seolah-olah ikut membayangi ruang tanggung jawab seorang pejabat publik.