“Mayoritas berasal dari alumni pesantren lokal seperti Al-Karimiyyah, Annuqayah, Al-Is'af, dan sejumlah pesantren besar nasional. Sebagian juga dari kalangan nonpesantren yang profesional, seperti aparatur pemerintah, dokter, dan pengacara,” ujar Kiai Widadi, Sabtu (16/5).

Ia menilai, komposisi tersebut mencerminkan wajah baru NU yang tetap berakar pada tradisi keilmuan pesantren, namun adaptif terhadap tuntutan profesionalisme.

“Kami terinspirasi pernyataan Ketum PBNU tentang Surat An-Nur ayat 35. NU harus menjadi pelita penerang bagi umat. PCNU Sumenep siap mengambil peran itu,” ujarnya.

Dari total pengurus yang dilantik, tercatat 17 orang bergelar doktor dan sekitar 70 orang menyandang gelar magister. Selebihnya merupakan sarjana serta lulusan pesantren.

Menurutnya, kekuatan sumber daya manusia tersebut menjadi modal penting untuk mengokohkan NU, baik dari sisi spiritualitas maupun tata kelola organisasi.

Kepengurusan baru, lanjutnya, tidak ingin berhenti pada seremoni semata. Program-program konkret yang menyentuh kebutuhan riil masyarakat akan menjadi prioritas utama.

“Kami ingin benar-benar hadir di tengah masyarakat,” ucapnya tegas.***