NASIONAL, MaduraPost - Presiden Prabowo Subianto akhirnya angkat bicara terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang belakangan menjadi sorotan publik dan viral di media sosial.
Dalam sambutannya saat meresmikan program Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, Prabowo menanggapi kritik mengenai kurs rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp17.600 per dolar AS. Ia menilai kondisi tersebut tidak perlu menimbulkan kepanikan berlebihan di tengah masyarakat.
"Rakyat di desa enggak pakai dolar kok,” ujar Prabowo dalam pernyataannya yang kemudian ramai diperbincangkan warganet di berbagai platform media sosial, dikutip dari IDN times.
Pernyataan tersebut memicu beragam reaksi publik. Sebagian menilai ucapan Prabowo sebagai upaya menenangkan masyarakat terkait kondisi ekonomi nasional, sementara sebagian lainnya mengkritik pernyataan tersebut karena dianggap mengabaikan dampak pelemahan rupiah terhadap harga kebutuhan pokok dan barang impor. Reaksi warganet pun ramai bermunculan di media sosial hingga menjadi topik viral.
Meski demikian, Prabowo menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat di tengah tekanan global yang memengaruhi banyak mata uang negara berkembang. Ia meminta masyarakat tetap optimistis terhadap kondisi ekonomi nasional.
“Percaya ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat. Indonesia kuat,” kata Prabowo dalam kesempatan yang sama dikutip dari ANTARA nesw.
Selain itu, Prabowo juga menyebut pelemahan rupiah lebih dirasakan oleh kelompok masyarakat yang sering melakukan transaksi luar negeri atau bepergian ke luar negeri, dibandingkan masyarakat pedesaan yang aktivitas ekonominya lebih banyak menggunakan rupiah.
Diketahui, melemahnya rupiah terhadap dolar AS dalam beberapa pekan terakhir menjadi perhatian publik karena berpotensi memengaruhi harga impor, biaya produksi, hingga daya beli masyarakat. Nilai tukar rupiah bahkan sempat menembus level Rp17.000 lebih per dolar AS, jauh dari asumsi APBN 2026 sebesar Rp16.500 per dolar AS.