Ia menekankan, para WBP yang dilibatkan telah melalui proses seleksi dan asesmen ketat, termasuk pemeriksaan kesehatan, untuk memastikan kelayakan bekerja di dapur.

Lebih lanjut, Mashudi menyebut pihaknya semula mengusulkan 119 titik dari total 627 lapas dan rutan di seluruh Indonesia untuk dimanfaatkan sebagai dapur MBG. Namun, hingga kini baru 36 lokasi yang disetujui.

“Saat ini progres pembangunan dapur sudah 90 persen. Mudah-mudahan akhir Mei sudah operasi. Sarana dan prasarana dapur yang dibangun sesuai standar BGN, dan hanya menggunakan lahan lapas serta pekerja separuhnya dari warga binaan,” katanya.

Sebaran dapur MBG tersebut mencakup sejumlah wilayah seperti Sumatera, Sulawesi, hingga beberapa provinsi lain.

Berdasarkan data yang dihimpun, dapur MBG berbasis lapas yang telah berjalan berada di Lapas Sukamiskin sebagai proyek percontohan.

Sementara pembangunan juga berlangsung di Lapas Batulicin, Kalimantan Selatan, dan Lapas Bengkulu.

Sebelumnya, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menyatakan komitmennya mendukung pelaksanaan program MBG dengan memaksimalkan peran WBP serta fasilitas dapur unit pelaksana teknis (UPT) Pemasyarakatan yang memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan.

Agus mengungkapkan, hingga kini terdapat 469 dapur lapas dan rutan yang telah mengantongi sertifikat laik higienis.

Selain itu, sebanyak 754 warga binaan telah tersertifikasi atau mengikuti pelatihan teknis penyelenggaraan makanan.***