Konstruksi bangunan kuno yang diduga berdiri sejak abad ke-15 atau ke-16, masih memancarkan pesona meski telah uzur.

Tidak hanya sebagai tempat peristirahatan terakhir Sarifah Ambami, makam ini juga menjadi tempat peristirahatan bagi beberapa tokoh penting Madura lainnya, termasuk Panembahan Tjakraningrat II dan III.

Keunikan makam ini terletak pada seni ukir yang memperindah setiap detailnya. Batu nisan yang terbuat dari batu putih mirip pualam, dipahat dengan indahnya menjadi daya tarik utama pengunjung.

Begitu pula dengan cungkup utama yang terdiri dari tiga bangunan megah berukuran 40 x 20 meter, yang menjadi penanda penting dalam kompleks makam ini.