"Iya karena sebelum kebijakan itu diambil, harga memang sudah di atas Rp 14 ribu per-liternya. Makanya ini pasti sulit menyesuaikan para pedagang yang sudah kadung ambil dari distributor," kata Hairul, Sabtu (29/1).

Meski begitu, pihaknya tidak menampik bahwa turunnya harga minyak goreng memang menjadi angin segar bagi pembeli. Sebab, mereka menikmati untung dari harga sebelumnya.

Sebaliknya, bagi para pedagang maupun produsen minyak, kebijakan ini tetap berpotensi mencekik alias buntung lantaran ongkos produksi dan lain-lain sudah terlanjur berjalan sebelum lahir kebijakan.

"Inilah yang saya maksud, karena saat ini harga mentah sawit itu lagi tinggi-tingginya," kata Hairul menegaskan.