Karena yang jelas, tambah Hadi yang sejatinya juga merupakan mantan aktivis di Kabupaten Pamekasan, pembacaan Burdah atau Shalawat Nabi dengan membawa obor yang akhir-akhir ini dilakukan oleh masyarakat Madura itu bukan konyol dan bodoh serta bukan tanpa alasan, tapi itu merupakan salah satu ikhtiar dalam menanggulangi wabah tersebut.
"Justru saya sendiri sangat menyayangkan apa yang telah dikatakannya. Sebab kalau dia melek dengan beberapa fakta yang jelas-jelas menimbulkan kerumunan seperti di pasar-pasar, kenapa dia tidak mengatakan konyol dan bodoh kepada Pemerintah. Kok malah kegiatan yang islami yang dibilang seperti itu," kesalnya.
Sementara itu, melalui hubungan via WhatsApp-nya, Thariq Aziz Jayana menyatakan, hal itu dirinya sebut konyol karena perbuatan tersebut melanggar aturan Pemerintah. Sebab kata dia, dilakukan secara berkerumun dan jelas-jelas itu melanggar aturan pemerintah.
"Disebut pembodohan, karena tidak ada dalam ajaran agama yang memerintahkan agar melakukan pembacaan Burdah secara berkerumun di tengah masa pandemi. Saya tidak menemukan satu refrensi pun yang memerintahkan itu," ungkapnya.