Menurutnya, dengan keberadaan destinasi wisata, masyarakat dimungkinkan tidak akan memandang tak sedap soal tumpukan sampah yang belum terurai. Sebab, panorama alam yang menyatu dengan keindahan lautan luas juga dapat disaksikan secara gratis.

"Bahkan di sana kan sudah dibangun flying fox, beberapa gasebo dan lain-lain. Iya walaupun sampai detik ini saya melihat memang tidak banyak yang berkunjung tapi ada lah antara 15 sampai 20 orang kalau Sabtu Minggu," terangnya.

Meski begitu, Ernawan mengaku, jika jalur masuk ke destinasi wisata yang sudah ditanami bibit pohon oleh Polres Sumenep pada tahun 2019 lalu itu masih belum layak. Sebab, banyak dijumpai jalan yang sudah mulai berlubang.

"Bisa disaksikan sendiri kan jalannya di sana sangat kurang layak. Ini masih butuh komunikasi dengan beberapa OPD khususnya Bina Marga untuk diajukan iya minimal perbaikan lah," ujarnya.

Disamping itu, salah satu pengamat kebijakan publik Surabaya Institute Governance (SIGN) Studies, Iwan Lesmana menerangkan, persoalan sampah hingga saat ini masih menjadi polemik di Indonesia.