“Coba anda perhatikan lagi, apakah ada amal kebaikan yang dia lakukan?” Tanya ulama besar itu lagi.
“Iya setahuku ada tiga hal. Yang pertama, setiap dia sadar dari mabuknya pada waktu Shubuh, dia mengganti bajunya, berwudhu dan kemudian melaksanakan Shubuh berjamaah. Kemudian dia kembali mabuk dan berbuat maksiat lagi.
Yang kedua, di rumahnya selalu ada dua atau satu anak yatim. Dia memperlakukan dengan baik anak yatim itu melebihi perlakuan kepada anaknya sendiri,
Yang ketiga, jika dia sadar dari mabuknya di tengah gelap malam, dia menangis dan meratap, ‘Ya Allah, di bagian neraka Jahanam mana Engkau akan menempatkan hamba-Mu yang kotor dengan maksiat ini’,”