Sementara itu, Kepala Desa Bringsang, Ahmad Muzakki, menyampaikan bahwa pihak desa tidak tinggal diam.
Sejak jembatan ambruk, koordinasi dengan berbagai instansi telah dilakukan untuk mendorong percepatan penanganan.
“Kami sudah berulang kali berkomunikasi dengan pemerintah kabupaten melalui dinas terkait, termasuk Komisi III DPRD Sumenep. Harapan kami, pembangunan kembali jembatan ini bisa segera direalisasikan,” ujar Muzakki.
Dari sisi pemerintah daerah, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Sumenep, Slamet Supriyadi, menjelaskan bahwa terdapat dua skema awal penanganan, yakni pembangunan jembatan sementara atau langsung membangun jembatan permanen.
Namun, hasil kajian teknis menunjukkan bahwa biaya pembangunan jembatan darurat justru cukup tinggi.