“Bahkan ada oknum yang bukan bagian dari koperasi menyebarkan isu bahwa gudang pabrikan akan segera tutup. Tujuannya jelas, supaya petani panik dan melepas tembakaunya dengan harga murah,” jelasnya.

Selain itu, manipulasi data serapan juga marak terjadi. Menurut Irwan, pabrikan seringkali melaporkan kebutuhan tembakau jauh lebih rendah daripada kenyataan.

“Setelah kuota yang diumumkan itu terpenuhi, mereka mengaku gudang sudah tutup. Padahal, kenyataannya mereka masih melakukan pembelian lewat jalur perantara,” ungkapnya.

Situasi tersebut, lanjutnya, tidak boleh dibiarkan terus berlangsung. Oleh karena itu, ia menilai perlu ada perumusan sistem penjualan yang transparan sekaligus pengawasan yang lebih ketat.