Nada serupa juga disampaikan oleh Ketua JMSI Sumenep, Supanji, yang menilai KEI gagal membangun komunikasi yang konstruktif dan justru memperburuk keadaan.
“Alih-alih meredakan tensi, mereka malah menyulutnya dengan tudingan provokatif terhadap media. Ini bukan sikap perusahaan yang ingin membangun dialog. Ini bentuk arogansi komunikasi,” kritiknya.
Supanji bahkan meminta KEI mencabut rilis tersebut dan menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada seluruh komunitas pers di Sumenep.
“Kami tidak bicara soal satu-dua media, tapi harga diri profesi kami. Rilis itu harus dicabut dan permintaan maaf harus disampaikan secara terbuka,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua DPC PWRI Sumenep, Rusydiyono, atau akrab disapa Yono, juga mengungkapkan kekecewaan atas sikap KEI yang dinilainya gagal menjalankan fungsi komunikasi publik secara bertanggung jawab.