Dalam suasana santai itu, Khairul Kalam, Koordinator Liputan MaduraPost, yang kerap memberikan potret isu sosial, menyampaikan kesan mendalamnya.
“Bromo membuat saya sadar bahwa jurnalisme bukan hanya tentang kecepatan, tapi juga tentang kedalaman. Seperti gunung ini, berita harus kokoh, berpijak pada fakta, tapi juga mampu menggugah,” tuturnya.
Menjelang siang, rombongan bersiap pulang, membawa serta bukan hanya foto dan kenangan, tetapi juga semangat baru.
Bromo bukan tujuan akhir, melainkan awal dari langkah-langkah berikutnya dalam mengabarkan kebenaran.
Dalam dingin yang menggigit dan kabut yang memeluk, MaduraPost tak sekadar berjalan, tetapi menyulam asa dalam senyap, menyiapkan diri untuk kembali menyuarakan suara rakyat dengan hati yang lebih lapang.***