Kendati begitu, ia tidak menampik bahwa proses transisi dari sistem manual ke perbankan digital di beberapa sekolah mengalami tantangan, terutama bagi yang sudah terbiasa mengelola tabungan siswa secara kolektif.

Untuk memudahkan pelaksanaan, BPRS Bhakti Sumekar juga menyediakan layanan mobil keliling yang secara rutin menyambangi sekolah-sekolah. Lewat layanan ini, siswa bisa langsung mengenal proses menabung, mendapatkan buku tabungan, hingga menyetorkan uangnya sendiri.

Dengan kombinasi regulasi yang mendukung, komitmen manajemen, serta sambutan positif dari sekolah dan orang tua siswa, BPRS Bhakti Sumekar optimistis program ini akan terus berkembang dan memperkuat literasi serta inklusi keuangan di wilayah Sumenep.

“Untuk siswa TK dan SD, biasanya dibutuhkan persetujuan serta tanda tangan dari wali murid. Namun, di sekolah-sekolah yang sudah menerapkan program satu rekening satu pelajar, justru para orang tua semakin antusias dan ikut terlibat memantau perkembangan tabungan anaknya,” tutup Indah.***