Kericuhan tersebut bermula ketika mahasiswa mendesak agar dapat bertemu langsung dengan Ketua DPRD Kabupaten Sumenep, H. Zainal Arifin.
Namun, permintaan itu tidak direspons, sehingga massa aksi memutuskan untuk masuk ke dalam gedung guna memastikan keberadaan para wakil rakyat.
Upaya mereka segera dihadang oleh aparat kepolisian yang berjaga, memicu ketegangan di antara kedua pihak.
Setelah perdebatan yang berlangsung sengit dengan perwakilan humas DPRD, sekelompok mahasiswa tetap bersikeras melakukan sweeping ke dalam gedung.