“Sampah yang akan kita kerjakan adalah sampah yang tidak bisa di daur ulang, seperti sampah plastik dan ban bekas (karet). Sementara karbon aktif ini, nantinya akan menjadi penyuplai produksi dalam negeri dan luar negeri,” kata Arif menerangkan.
Investasi yang ditanamkan oleh pihak Jepang ini merupakan investasi jangka panjang, yang diawali dengan pembangunan infrastruktur.
"Ini memerlukan waktu sekitar 5 tahun. Selama pelaksanaan pembangunan infrastruktur yang akan meraka kerjaan (Jepang, red), pemerintah daerah tidak akan terbebani, karena dapat menggandeng pihak ketiga yang nantinya akan bertugas sebagai penjual, kepada pihak luar negeri ataupun dalam negeri,” papar Arif.
Sementara untuk lokasi penyulingan air laut menjadi air mineral atau air tawar, kata Arif, pemerintah daerah ataupun dari pihak investor belum ditentukan.
“Lahan yang harus disediakan hampir 12 Ha, untuk itu, kami bersama dengan pihak investor akan melihat 3 potensi seperti Talango, Bluto dan Saronggi. Alasannya, selain ketersediaan lahan, kita juga harus memikirkan segi efisiensi transportasinya,” kata Arif menjelaskan.