"Dengan buku ini saya tidak bermaksud 'Melamar' menjadi penyair, apalagi menisbatkan sebagai penyair," tulis Suhartatik, dalam kata pengantar buku kumpulan puisinya yang berjudul Seteguk Kopi Emak, Sabtu (16/8).
Kumpulan puisi milik Suhartatik yang terbit tahun 2020 ini adalah catatan penting dalam setiap perjalanannya meniti karir. Dalam oretan tintanya, Suhartatik tak pernah melepaskan budaya Madura yang tetap melekat pada dirinya sebagai perempuan Madura.
Paling sempat, dalam beberapa puisi miliknya, Suhartatik memberikan banyak simbol kasih sayang seorang ibu dan keadaan sosial yang terjadi. Seperti doa seorang ibu yang terus mengalir pada langkah perjalanan sang anak, dan kondisi negeri ini dari hari ke hari, masa ke masa.
"Saya hanya ingin merawat sekaligus ingin mendokumentasikan catatan-catata atas peristiwa peristiwa sehari-hari yang melintas dan yang saya rasakan dalam pikiran," akuinya.