Sayangnya, cita-cita tersebut tidak sempat diwujudkan. Dani meninggal dunia pada 13 Oktober 2026, setelah menjalani perawatan di RS BHC Sumenep.
Dani sebenarnya dijadwalkan mengikuti prosesi wisuda pada 27 Oktober 2026. Namun, tanggal yang seharusnya menjadi momentum kebahagiaan itu justru dilewati keluarga tanpa kehadiran sosok yang mereka tunggu-tunggu.
H. Hayat mengaku telah berusaha menerima kepergian putranya sebagai takdir Tuhan. Namun, menerima kenyataan kehilangan tidak berarti keluarga berhenti mencari penjelasan.
"Kami tetap menunggu hasil keputusan rumah sakit," kata H. Hayat, Senin (2/11) siang.
Tak lama berselang, istri H. Hayat, Hj. Siti Nor Hayati, tiba di rumah setelah berjualan sembako di Pasar Anom Baru Sumenep. Perempuan yang akrab disapa Hj. Hayati itu juga memilih menyerahkan semuanya kepada Tuhan.
Ia mengaku tidak ingin memperpanjang persoalan. Harapannya sederhana, ingin mendapatkan ketenangan setelah kehilangan anaknya.
"Amin.. amin, semoga surga untuk anak saya, Dani," kata Hj. Hayati.
Namun, ketenangan yang diharapkan keluarga tampaknya belum sepenuhnya hadir. Sebab, hingga Senin (2/11), masih terdapat perbedaan keterangan mengenai komunikasi dan pertemuan antara keluarga dengan pihak RS BHC.
Usai berbincang, para jurnalis kemudian berziarah ke makam Dani yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah duka.